Strategi di Balik Mobil ASEAN Indonesia-Malaysia

Strategi di Balik Mobil ASEAN Indonesia-Malaysia



Cukup mengherankan, Presiden RI ke-7, Joko Widodo, “besar” karena mobil SMK, tapi sayang keberadaan mobil ini sudah tak sebesar gaungnya dulu. Setelah menjadi Presiden, mantan Gubernur DKI Jakarta ini, memiliki skenario lain, yakni membangun proyek mobil skala ASEAN.

Pembicaraan mengenai proyek besar ini, sebenarnya sudah mulai muncul saat Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak, menghadiri pelantikan Jokowi, 20 Oktober 2014 silam.

Saat itu Najib menyatakan, proyek kedua negara akan melibatkan perusahaan mobil asal Malaysia, Proton. Gayung bersambut, mobil ASEAN Malaysia-Indonesia disambut pencetus mobil ESEMKA, namun harus melalui uji kelayakan proyek.

Saat ditanya wartawan dua hari yang lalu (21/12/2014) mengenai model dan jenis mobil, Najib belum bisa menjelaskan. Dia hanya bisa memastikan kesiapan Proton berkolaborasi dalam proyek mobil ASEAN tersebut. Bahkan prediksi perusahaan mobil asal Malaysia Mobil ASEAN akan digdaya, besar di pasaran Asean.

Namun banyak pengamat menilai, pengajuan proyek mobil Asean kedua negara ini merupakan bagian dari antisipasi beberapa regulasi baru Jokowi yang berdampak pada perusahaan asing, termasuk perusahaan dari Malaysia.

Sinyalemen ini juga diungkapkan Najib. “Saya harap perusahaan-perusahaan Malaysia yang ada di sini (Indonesia) saat ini tidak akan terpengaruh dengan resulasi baru apapun,” ungkapnya.

Hubungan bilateral yang sedikit tidak harmonis seperti klaim Malaysia atas batas maritim di Laut Sulawesi yang dikenal dengan ND6 dan ND 7, sepertinya juga menjadi alasan penting.