Kenapa Harus ke Niagara Kalau Bisa ke Curug Cikaso!!

Kenapa Harus ke Niagara Kalau Bisa ke Curug Cikaso!!



Boleh jadi AS punya air terjun Niagara yang terkenal gagah dan megah. Tapi Indonesia punya banyak air terjun yang tak kalah keren. Salah satunya Curug Cikaso di Sukabumi.

Awalnya, ajakan untuk pergi ke Green Canyon, Pangandaran jadi opsi yang pertama. Selain pesonanya yang memang memukau, ada acara yang hendak kami hadiri. Akan tetapi, dari media sosial kami mengetahui bahwa jalanan begitu padat malam itu. Kami pun memutuskan untuk mengganti destinasi lain yang masih cukup dijangkau dalam waktu sehari dari Jakarta.

Setelah voting, ada dua tujuan yaitu Sawarna dan Ujung Genteng. Karena saya sudah pernah ke Desa Sawarna, maka saya lebih antusias ke Ujung Genteng terutama Curug Cikasonya. Kawan-kawan pun setuju.

Kami berangkat dari daerah Cibubur pukul 12 malam karena menghindari macet yang berlebihan, untungnya hingga keluar Tol Ciawi jalanan lancar. Kami terus berjalan hingga singgah di mini market untuk sekedar membeli perbekalan.

Lanjut jalan, kami memiliki dua opsi jalur. Baik itu melalui Sukabumi dan melewati daerah Jampang. Atau, melipir pinggiran dari Pelabuhan Ratu hingga Ujung Genteng. Kami bertanya pada salah seorang warga sekitar, dan kami disarankan untuk melewati jalur Pelabuhan Ratu. Selain penunjuk arah yang banyak, daerah tersebut lebih banyak dilewati pelancong meski tetap terkesan sepi.

Saat melewati jalur ini, disarankan pada saat cuaca masuk musim kemarau. Jika tidak, bukan mustahil jalanan tertutup oleh longsoran bukit sekitar. Pencahayaan jalan yang kurang, serta jalan yang masih banyak berlubang, kehati-hatian jadi kunci utama.

Total, kami membutuhkan waktu hingga 5 jam untuk sampai di Ujung Genteng saat kemarin. Ah, segar rasanya setelah melalui perjalanan panjang. Biaya masuk Ujung Genteng relatif murah. Mobil dengan penumpang 4 orang dikenakan biaya Rp 27 ribu. Seperti halnya daerah pesisir, Ujung Genteng merupakan kampung nelayan, banyak yang baru kembali setelah malam hari mereka melaut.

Tidak berlama-lama, pukul 8.30 kami bergegas ke Curug Cikaso. Melalui informasi dari petugas tiket Ujung Genteng, waktu tempuh sekitar 40 menit. Patokannya adalah pertigaan minimarket Surade. Jalan yang berliku jadi pemandangan luar biasa pagi itu.

Tak lama, kami sudah tiba di gerbang masuk Curug Cikaso. Biaya masuk Rp 13 ribu saja. Kami berjalan sedikit menuju hutan tempat curug berada. Ada dua pilihan, berjalan kaki sekitar 15 menit atau menggunakan perahu dengan waktu tempuh 5 menit.

Sebenarnya kami berencana untuk berjalan kaki, selain lebih murah, rasanya pegal jika harus kembali duduk di perahu setelah semalaman duduk di mobil. Akan tetapi menurut pihak setempat, lahan tersebut milik pihak swasta, dan untuk saat ini tidak dapat dilewati karena beberapa masalah dengan pihak Pariwisata Banten. Mau tidak mau kami naik perahu dengan biaya setelah nego menjadi 50 ribu untuk pulang pergi.

Awalnya tidak ada yang spesial, sungai dengan air keruh benar-benar pemandangan yang biasa. Tak lama, air sungai langsung berubah hijau tosca karena aliran Curug Cikaso tersebut. Sungguh luar biasa pemandangannya.

Mengabadikan momen tersebut sejenak, lalu kami turun dan berjalan kaki sekitar lima menit. Kami langsung disambut dengan sepasang air terjun dengan intensitas air yang cukup deras. Di sisi kanan terdapat satu lagi yang agak sedikit tersembunyi. Ada beberapa warung jajanan dan souvenir di sana.

Bersantai dan menyegarkan diri di aliran curug jadi bagian penting tentunya. Setelah 3 jam lamanya, kami lalu kembali. Naik perahu yang menunggu kami, membilas diri, dan beristirahat sejenak. Tak lama kami kembali ke Jakarta siang harinya.

Tidak ada ruginya pergi ke Ujung Genteng dan Curug Cikaso. Selain murah, pemandangan yang disajikan juga benar-benar luar biasa. Hanya saja perlu adanya perbaikan sarana dan prasarana di setapi sudut tempat wisata, agar pengunjung yang hendak datang dapat merasakan kepuasan. Selain itu tanggung jawab kebersihan dari traveller harus selalu tertanam, agar keindahan yang alami tersebut tidak rusak dan terjaga sebagaimana mestinya.