Putri Pelangi, Curug Mempesona di Kaki Gunung Salak

Putri Pelangi, Curug Mempesona di Kaki Gunung Salak



Akhir pekan ini saatnya mencari tempat wisata yang segar. Untuk itu, traveler bisa berkunjung ke Curug Putri Pelangi di Bogor. Curug mempesona di kaki Gunung Salak ini, siap melengkapi liburan Anda!

Adalah Curug Putri Pelangi, jaraknya sekitar 15 km dari pusat Bogor, melalui jalan alternatif Cihideung-Sukabumi. Pemandangan sawah dan ladang warga bisa dilihat oleh traveler apabila melalui jalur Cihideung, lalu masuk ke Kampung Bantarkambing.

Siapkan air mineral, karena tak banyak warung atau penjaja makanan dan minuman di sepanjang perjalanan menuju lokasi Curug Putri Pelangi. Jalanan yang saya lalui mungkin dulunya aspal dan beton, namun karena banyaknya truk kecil yang sering melintas, akhirnya jalan ini rusak dan mengelupas.

Truk-truk itu mengangkut pasir dan batu cadas yang dibawa dari lokasi pertambangan milik warga setempat. Lokasi pertambangan sendiri bisa dilihat langsung, sekitar 3 kilometer sebelum sampai di tujuan Curug Putri Pelangi.

Ketika berjalan, jangan lupa untuk menolah ke belakang dan melihat hamparan hijaunya pepohonan dan terlihat juga hamparan gedung-gedung tinggi di Kota Bogor terlihat seperti kotak kotak kecil.

Rasa lelah akan terobati begitu memasuki areal menuju lokasi curug. Kita akan disambut dengan rumput jepang hijau dan tangga-tangga kecil berundak curam. Lagi-lagi seluas mata memandang adalah pemandangan kaki bukit Gunung Salak dan indahnya kota Bogor.

Saya tak sempat menghitung jumlah anak tangga karena setengah perjalanan sudah merasa sangat lelah, alangkah baiknya selonjorkan kaki dan berfoto bareng keluarga.

Di undakan terakhir, gemericik air terjun langsung tertangkap telinga. Sebuah plang dan pondokan kecil menyambut kedatangan kami. Tarif masuk ke lokasi curug ini hanyalah Rp 10.000, karena saya bawa keponakan yang masih kecil sedikit nego, dan aha! bisa gratis.

Byur.. dinginnya air curug langsung mengobati kelelahan selama di perjalanan tadi. Pegal-pegal pun hilang, ada dua curug setinggi 7 meter di sini, yang satu intensitas airnya lebih sedikit, satunya lagi cukup deras.

Usai berendam di curug, Saya sempatkan ngobrol dengan penjaga warung yang mengaku bernama Bu Deuis, usianya sekitar 45 tahunan. Menurut Bu Deuis, sudah 3 tahun ia berjualan di sekitar lokasi curug yang sekarang. Padahal jauh sebelum dilakukan perombakan besar-besaran oleh pemiliknya, Bu Deuis sudah berjualan. 

Menurut dia, Curug Putri Pelangi dikelola secara pribadi oleh seseorang bernama Agus Anwar dari Jakarta. Sebelum dimiliki oleh Agus, Curug Putri Pelangi bernama Curug Barjan.

Mungkin karena kurang 'ear catching' di telinga, oleh pemiliknya nama curug ini diganti menjadi Putri Pelangi. Mungkin karena pelangi kerap muncul di bawah kaki air terjun.

Setelah sedikit ngobrol ngalur-ngidul sambil menyantap mie rebus. Sekitar 4 jam bermain di areal curug, rasa malas untuk pulang menyergap, karena membayangkan ekstremnya jalanan yang akan kami lalui saat pulang. Selain naik undakan ribuan anak tangga, jalanan tanah licin dan terjal akan kembali kami lewati.

Oh iya, selain berjalan kaki, Anda juga bisa naik kendaraan pribadi roda empat atau roda dua. Namun, karena jalanan sedikit ekstrim baiknya tetap berhati-hati. Meski rasa malas mendera, akhirnya saya putuskan mengangkat tubuh untuk pulang, karena malam mulai menjelang.

Liburan long weekend ini memang cocok dihabiskan di Curug Putri Pelangi. Tertarik?