Review All New Honda Odyssey

Review All New Honda Odyssey



Sejak kelahirannya, Honda Odyssey telah menjadi trendsetter dalam desain dan teknologi bagi MPV berkapasitas 7-penumpang. Saat MPV lain masih berdesain konvensional dengan bentuk kotak (boxy), generasi pertama Odyssey telah menampilkan lekuk bodi yang pipih, aerodinamis, beruang kabin mewah, serta berfitur lengkap.

Di pasar Indonesia, Odyssey diluncurkan oleh PT Honda Prospect Motor (HPM), ATPM Honda, pada tahun 2005, meski sebelumnya konsumen Negeri Batik telah mengenalnya lebih dulu via importir umum. Generasi ketiga tersebut mengincar kelas MPV premium dengan segementasi harga di atas Rp 400 juta. Adapun unit yang terjual dalam kurun 2005-2009 adalah sebanyak 843 unit. Meski terjual kurang dari 1.000 unit, toh Odyssey menerima banyak penghargaan. Salah satunya, terpilih sebagai 'Favorite Big MPV' dalam ajang Autocar Indonesia Reader’s Choice Awards 2006 dan 2007.
Setelah 16 tahun lamanya Odyssey hadir di dunia, tanpa terasa generasi terbaru MPV premium ini dirilis di Indonesia. Didatangkan langsung dari Jepang, Odyssey kali ini dilengkapi sliding sun roof, kamera pantau, dan lampu HID (high intensity discharge).

Dilihat dari banderolnya, Odyssey bersaing dengan VW Touran (Rp 404 jt, harga varian termahal Touran Limited edition) dan Subaru Exiga 2.0 GT (Rp 488 juta). Sedangkan dari segi kelas MPV 7-seater, Odyssey bersinggungan dengan Mitsubishi Grandis GT (Rp 370 juta).

Tubuh generasi keempat ini tampak kian “mengalir” dan pipih. Tinggi mobil hanya 1.545 mm (setara sedan) dan panjang keseluruhan 4.800 mm. Artinya, model anyar ini lebih rendah 5 mm dan lebih panjang 35 mm ketimbang model sebelumnya. Sedangkan lebarnya tetap sama, yakni 1.800 mm. Sementara itu, ground clearance hanya 150 mm, sehingga Odyssey perlu waspada bila melewati jalan rusak ataupun genangan air.

Detail mobil pun didesain seirama dengan tubuh yang ramping. Sebagai misal, headlamp dan stoplamp yang juga dibuat lebih pipih ketimbang generasi sebelumnya. Selain karena alasan estetika, secara teknis desain pipih ini dimaksudkan untuk mengurangi hambatan angin, yang berimbas pada penghematan konsumsi BBM. Honda menamakan konsep desain ini sebagai 'ultra low floor platform'.

Adapun rival terdekatnya yang pernah kami uji, VW Touran, memiliki panjang 4.407 mm, lebar 1.794 mm, dan tinggi 1.635 mm. Dapat kita lihat Odyssey lebih panjang 358 mm dan lebih lebar 6 mm dibanding Touran. Hal ini mengindikasikan bahwa Odyssey memanfaatkan kelebihan panjang dan lebar untuk menambah legroom dan shoulder room bagi penumpangnya. Namun, Odyssey lebih rendah ketimbang Touran, disebabkan konsep desain “mengalir” dan pipih mirip sedan. Walhasil, headroom baris ketiga agak terpangkas. Kondisi ini berbeda terlihat di Touran. Sosoknya yang murni MPV, membuat headroom penumpang, khususnya baris ketiga, lebih baik ketimbang Odyssey.

Untuk pengendalian dan pengendaraan, Odyssey dilengkapi fitur Motion Adaptive EPS (electronic power steering) plus VSA (vehicle stability assist). Kedua fitur ini berfungsi mencegah gejala oversteer dan understeer. Rangkaian pengereman disokong ABS (anti-lock braking system), EBD (electronic brake-force distribution), dan BA (brake assist). Ada pula teknologi kontrol traksi yang terintegrasi dengan ESP (electronic stability program) untuk meningkatkan kestabilan pengendalian mobil. Itu masih ditambah dual airbag serta curtain airbag, menjadikan nilai keselamatan MPV ini terbilang baik
Man maximum, machine minimum. Itulah filosfi yang dianut desainer Odyssey saat menciptakan interior mobil ini. Dengan tetap mengandalkan konsep 'low floor platform', Honda menciptakan kabin yang bertemakan 'V-shape'. Tujuannya agar mampu menampung tujuh penumpang dengan nyaman dan memberikan pandangan yang luas ke depan. Langkah yang ditempuh cukup sederhana: penumpang belakang dibuat duduk lebih tinggi ketimbang penumpang di depannya.

Tepat di bawah sunroof, kursi pengemudi dapat diatur delapan arah secara elektrikal via tombol di samping kanan bawah jok. Untuk mempermudah pengemudi mengatur posisi, sistem kemudi bisa diatur tinggi-rendahnya (tilt) dan maju-mundurnya (telescopic). Sayangnya, cara pengaturan elektris tidak berlaku untuk kursi penumpang depan. Gerakan maju-mundur dan rebah-tegak, diperoleh dengan mengoperasikan tuas.

Dashboard didesain dengan konsep melandai ke depan. Honda menyebutnya 'wave shape design'. Bentuknya terasa futuristik dan tidak membosankan. Instrumen yang terpasang mudah dilihat dengan tombol yang mudah dikenali dan mudah diraih. Sementara itu, fitur seperti 'ambient light' yang berpendar biru dan trim pintu yang dilengkapi 'optical fiber door trim' yang juga memendarkan cahaya biru, membuat penumpang lebih merasa nyaman, terutama di malam hari.

Sebagai pelengkap hiburan, terpasang head unit double din dengan layar LCD 6,1 inci. Aplikasi layar sentuh, DVD, MP3, WMA, AAC, konektor USB, serta i-Pod, merefleksikan kecangihan dari interior. Tidak hanya itu, head unit ini juga sanggup menampilkan bumper belakang mobil serta area aman untuk parkir mundur. Sayangnya, head unit ini tidak terintegrasi. Ketidaksatuan ini menimbulkan “ganjalan” tersendiri di dashboard.

Odyssey dengan cerdik menata ulang kursi tengah. Dengan mengubah posisi dan mendesain ulang bentuk kursi baris kedua ini, legroom dan knee room bagi penumpang baris ketiga bertambah sekitar 40 mm dan 20 mm dibanding Odyssey sebelumnya, tanpa mengorbankan kapasitas bagasi.

Bahkan, untuk melipat jok baris ketiga, kita hanya perlu menekan sebuah tombol di kiri pilar D dan jok akan terlipat dengan sendirinya. Untuk fitur yang satu ini, pastikan tidak ada sesuatu yang mengganjal proses pelipatan kursi. Jika pelipatan tidak tuntas, suara peringatan akan berbunyi.

Dalam keadaan terlipat, akan terciptalah sebuah ruang luas yang mampu menampung setidaknya empat tas golf dalam posisi melintang. Rebahkan lagi baris kedua, maka kita akan mendapatkan paling tidak ruang penyimpanan berkapasitas 1.056 liter.
Di balik bonet Odyssey,  bertengger jantung mekanis 4-silinder segaris, i-VTEC, DOHC, berkapasitas 2,4 liter. Rasio kompresi dinaikkan menjadi 10,5:1 (pendahulunya 9,7:1). Dengan cara ini, tenaga naik 20 hp ketimbang generasi ketiga atau menjadi 180 hp pada 6.500 rpm. Sedangkan torsinya tetap, yaitu 218 Nm pada 4.500 rpm. Keluaran daya lantas disalurkan via tranmsisi otomatis 5-speed ke roda depan.

Selain mengubah nilai kompresi, Honda juga memasang 'torque boost resonator'. Fungsi peranti ini mengubah aliran udara yang tersedot oleh air intake menjadi udara bertekanan tinggi. Aliran campuran udara dan bahan bakar bertekanan tersebut disimulasikan berputar. Tujuannya, menaikkan efisiensi proses pembakaran, sehingga torsi dan tenaga lebih maksimal, tapi minim konsumsi BBM.

Kombinasi dari kenaikan rasio kompresi dan pemasangan peranti 'torque boost resonator' mampu melejitkan Odyssey untuk 0-100 kpj dalam 12,4 detik dan akselerasi 0-402 m dalam 18,7 detik dengan kecepatan maksimum akselerasi 125,7 kpj.

Proses penyaluran daya juga terbilang baik, karena di berbagai kecepatan menengah (kecepatan yang kerap digunakan untuk menyusul mobil lain) selisihnya hanya 0,1 detik. Tercatat, untuk akselerasi 70-90 kpj Odyssey perlu 3,5 detik, 80-100 kpj dalam 3,6 detik, dan 90-110 dalam 3,7 detik. Sedangkan catatan waktu pengereman 80–0 kpj perlu 2,8 detik dengan jarak 27,1 m

Meski dibagun satau platform dengan Accord, toh Odyssey tidak melupakan fitrahnya sebagai mobil keluarga. Buktinya, MPV ini mengendong transmisi dengan rasio lebar. Mobil ini lebih mengutamakan penyaluran daya secara bertahap, bukan serentak lazimnya transmisi berasio rapat yang diusung oleh rata-rata sedan.

Indikasi saluran daya secara bertahap dapat dilihat dari lesatan mobil di tiap gear. Selisih angka kecepatan tiap gear terpaut cukup jauh. Dari pengujian, pada gear 1 mobil ini mampu melesat hingga 75,2 kpj, gear 2 hingga 129,6 kpj, dan gear 3 hingga 182,4 kpj
Posisi berkendara yang diberikan Odyssey sama sekali berbeda dengan MPV kebanyakan. Dimensinya yang lebih mendekati sebuah station wagon membuat posisi mengemudi Odyssey lebih mirip mengendarai sebuah sedan. Apalagi dengan pengaturan tempat duduk elektrik, membuat posisi mengemudi dapat lebih akurat.

Kaca yang landai dan dashboard yang luas membuat pandangan ke depan terasa lapang dan leluasa. Pandangan mengemudi juga tak terganggu oleh pilar A. Ditambah dengan bangku berlapis kulit yang nyaman, mengendarai Odyssey dalam jarak yang jauh tak membuat badan mudah lelah. Apalagi suspensinya menyuguhkan peredaman yang nyaman, hampir di setiap kondisi jalan. Kunci kenyamanan hadir berkat penggunaan suspensi 'independent double-wishbone' di keempat rodanya.

Karakteristik suspensi double wishbone yang lembut tampaknya memang dipilih untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi para penumpang Odyssey, sekaligus menopang bobot 1,6 ton yang dimilikinya. Meski begitu, kelembutan yang dihasilkan suspensi tak membuat Odyssey memiliki pengendalian yang mengecewakan. Salah satu hal yang membuat pengendaliannya juga istimewa adalah titik berat (centre of gravity) mobil ini yang rendah.

Selain itu, penggunaan fitur-fitur stabilitas elektronik juga memberikan kontribusi yang luar biasa pada pengendaliannya. Misalnya, VSA (vehicle stability assist) dan ESP (electronic stability program) yang dalam proses kerjanya juga bekerja bersama dengan rangkaian sistem pengereman ABS, EBD, dan BA. Saat bermanuver, gejala oversteer dan understeer yang terjadi di tikungan sepenuhnya dikendalikan oleh VSA dan ESP.

Hal ini membuat keyakinan saat mengendarai Odyssey cukup tinggi. Beberapa kali gejala oversteer di tikungan saat uji pengendalian bisa diatasi hanya dengan mengangkat kaki kanan dari pedal gas. Putaran kemudinya yang mantap, juga membuat pengendalian Odyssey jauh lebih mudah
Selain menyempurnakan detail eksterior dan interior, mobil ini berusaha menyuguhkan kenyamanan dan utilitas tinggi, tanpa mengurangi nilai sportif dan kemewahan. Meski dibangun dari platform sedan, tetapi dengan rancang bangun yang tepat, mampu membuat Odyssey memiliki jiwa MPV. Tidak hanya itu, pilihan aksesorinya pun beragam, baik secara resmi ataupun aftermarket.

Tersedia dalam empat warna (premium white pearl, crystal black pearl, oplished metal metallic, dan alabaster silver metallic), MPV ini mencoba merayu konsumen dengan teknologi dan fitur-fitur yang lengkap, seperti 'keyless entry', 'immobilizer anti-theft system', 'security alarm', dan 'ultrasonic sensor'. Odyssey juga sukses meraih bintang 6 (tertinggi) dari Japan New Car Assessment Program (JNCAP) dalam uji tabrak, berkat aplikasi teknologi penguatan bodi G-CON dan ACE™.

Dengan seabrek keunggulan tersebut, tak heran jika Honda optimis soal penjualan Odyssey. Berbicara soal layanan purna jual, Honda memberikan garansi 3 tahun atau 100 ribu km ditambah garansi suku cadang selama 12 bulan.
Kami suka | Pengendalian | performa | kepraktisan kabin. Kami tidak suka | Sistem audio yang tidak terintegrasi | head room baris ketiga sempit. Seperti kami sebutkan sebelumnya, banderol mobil ini bersaing dengan VW Touran dan Subaru Exiga. Kedua rivalnya itu sama-sama memiliki aroma sport yang kental. Tetapi, dari segi fitur dan aspek kemewahan, Odyssey lebih unggul ketimbang Touran. Jadi, lawan terdekatnya tinggalah Subaru Exiga. Keduanya sama-sama didatangkan dari Jepang dan memiliki fitur yang komplit, plus nilai kemewahan yang hampir setara. Faktor harga sepertinya akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi konsumen tertentu. Tetapi, citra tinggi dan kualitas Odyssey sebanding dengan harganya.