Review BMW X3

Review BMW X3



X3 adalah mid-SUV pertama yang dirilis BMW. Kemunculan X3 pertama kali di tahun 2004, rupanya memang tidak banyak menarik perhatian, meskipun saat itu sang kakak, X5, sukses di pasaran, sekaligus merebut hati masyarakat. X3 yang dirakit di pabrik Magna-Steyr di Austria bernasib sebaliknya.

Namun, mimpi buruk X3 lawas kini sepertinya terobati setelah BMW meluncurkan All New BMW X3 yang berparas lebih tampan, tidak kaku, modern, dan berukuran lebih besar. Tidak hanya itu, BMW mengklaim bahwa performa X3 generasi kedua ini juga jauh lebih baik ketimbang yang digantikannya.

Khusus di Tanah Air, BMW Indonesia menghadirkan dua varian X3 bermesin diesel yang sebetulnya mengusung mesin yang sama (2,0 liter diesel) dengan perbedaan pada trimnya (Business dan Executive). Mesin ini menghasilkan 184 hp dengan gerak empat roda khas BMW yang disebut xDrive.
Seperti disebutkan tadi, X3 adalah mid-SUV pertama dari BMW yang didesain dan dirakit di pabrik Magna-Steyr di Austria. Namun, untuk X3 generasi kedua ini BMW merakitnya di pabrik mereka di Spartanburg, South Carolina, Amerika Serikat, bersama dengan BMW X-Series lain.

Dengan desain barunya, X3 yang mengusung kode platform F25 kini tampak lebih rendah dari sebelumnya, meskipun sebetulnya ground clearance tetap sama. Hal ini didapat dari desain garis atap yang lebih melandai, bagian samping yang lebih dinamis, plus berukuran lebih besar dari sebelumnya, yaitu 83 mm lebih panjang dan 28 mm lebih lebar.

Alasan X3 dimelarkan sebenarnya sederhana: kehadiran BMW X1 yang dimensinya tidak jauh berbeda dari BMW X3 generasi pertama. Akhirnya, untuk mempertegas perbedaan kelas, BMW memelarkan X3 yang kini berukuran panjang hampir sama dengan BMW X5 generasi pertama (X3 4.648 mm vs X5 4.666 mm). Yang menarik, BMW X3 diesel ini ternyata tidak bertambah berat. Dibanding versi diesel generasi pertama, X3 Diesel ini bahkan lebih ringan 25 kg.

BMW membenamkan mesin diesel berkapasitas 1.995 cc untuk X3. Layaknya mesin diesel modern dengan varible geometry turbo, meskipun kapasitasnya kecil, namun torsi yang dikeluarkan mencapai 380 Nm yang mulai muncul di putaran 1.750-2.750 rpm, dengan tenaga maksimum 135 hp pada 4.000 rpm. Sistem common rail dengan Piezo injector juga digunakan untuk menyemprotkan solar ke ruang bakar secara persisi dengan tekanan maksimum 1.800 bar. Dan itulah resep untuk mendapatkan performa diesel yang mumpuni.

Torsi kemudian disalurkan melalui transmisi 8-speed otomatis yang akan menyalurkannya secara merata ke keempat roda dengan sistem All Wheel Drive yang disebut xDrive. xDrive juga mampu membagi torsi ke roda yang lebih memerlukan dalam hitungan sepersekian detik tanpa dapat dirasakan oleh penumpangnya. Hal ini berguna agar traksi tetap terjaga dalam kondisi apapun.      

Hal menarik lainnya adalah hadirnya fitur 'stop-start' yang akan mematikan mobil saat mobil dalam keadaan berhenti. Namun, jangan salah, sistem ini tidak sembarangan dalam bekerja. Sensor suhu di dalam kabin memiliki kuasa untuk menghalangi 'stop-start' bekerja. Jika suhu di kabin dinilai tidak nyaman (panas), fitur ini tidak bekerja. Sebaliknya, bila penumpang dinilai tidak akan kepanasan karena mesin mati dan AC mati, maka fitur ini otomatis bekerja
Dengan selalu mengusung jargon EfficientDynamics, BMW berusaha mengedepankan efisiensi sebuah mobil, tanpa mengorbankan tenaga ataupun kesenangan berkendara. Setidaknya itulah yang selalu digembar-gemborkan.

Menilik X3, dengan mesin diesel ini, sepertinya memang EfficientDynamics inilah yang ingin dikejar. 184 hp pada 4.000 rpm menghasilkan akselerasi 0-100 kpj yang cukup baik yaitu 10,1 detik saja. Meskipun demikian, pada putaran rendah, semisal dibawah 1.500 rpm, X3 terasa kurang bertenaga. Namun saat putaran torsi teraih di 1.750 rpm, maka mesin seolah tidak pernah kehilangan nafas hingga jarum RPM mencapai redline di kisaran 4.500 rpm.

Kelincahan X3 juga sungguh terasa di putaran menengah. Akselerasi saat overtake yang terasa mumpuni membuat kami percaya diri untuk meliuk diantara kepadatan lalu lintas didalam ataupun diluar kota. Saat diukur, akselerasi di kecepatan 60-80 kpj, rata-rata overtake dilakukan pada kecepatan tersebut, bisa diraih dalam 2,3 detik saja.

Transmisi 8-speednya terasa cukup lembut dan berpindah tanpa jeda. Meskipun sempat bingung apa sebenarnya guna gigi ke-8 di mobil ini, namun setelah berjalan jauh dengan kecepatan yang cukup konstan, transmisi turut menyumbang iritnya konsumsi bahan bakar. Dan saat diperlukan untuk akselerasi, transmisi mampu merespon dengan akurat tanpa ada putaran mesin yang berlebihan yang mengganggu.

Hal yang harus diperhatikan adalah bahan bakar yang dipergunakan. Kami menggunakan bahan bakar sekelas Shell Diesel, yang kualitasnya berada dibawah Pertamina DEX, bahan bakar yang sangat disarankan untuk mobil ini. Tapi menurut BMW Indonesia, asal jangan bahan bakar diesel bersubsidi, mesin diesel BMW mampu menenggaknya.
Ketika diperkenalkan pertama kali pada Awal Maret 2011, Presiden Direktur BMW Indonesia, Ramesh Divyanathan berkata Desain ergonomi yang impresif serta ruang kabin yang lapang pada BMW X3 terbaru ini memberikan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi.

Hal ini terbukti karena inetrior mobil ini menawarkan konsep yang lega dan dapat dikonfigurasi untuk fungsi yang bervariasi, dibuat dari materi berkualitas tinggi dan karakter permukaan tiga dimensi yang membuat interior BMW X3 bernaunsa modern, premium dan lengkap, dengan fungsi yang cerdas.

Pada dashboard, meter cluster memiliki huruf dan jarum yang berkarakter sportif. Meski terlihat biasa tetapi sisi kerapihan dan fungsionalitasnya tetap terjaga. Bagian konsol tengah yang lebar, terasa memperjauh jarak antra penumpang depan dan pengemudi. Posisi tempat duduk yang tinggi memberikan kemudahan akses  serta meniciptakan bidang pandang yang luas. Control display pun terintegrasi dengan harmonis di panel instrumen.

Pemekaran dimensi membuat X3 memiliki ruang kaki yang tergolong lebar, demikian pula dengan head roomnya. Untuk kursi depan legroom berkisar antara 470-630 mm dan headroom 870-940 mm. Sedangkan kursi belakang; 535 mm untuk legroom dan 960 mm untuk headroom. Sedangkan untuk daya angkut, X3 mampu mengakomodir lima penumpang.

BMW melapisi setiap kabin dengan bahan kulit berkualitas, bahkan pada model terendah yang kami uji ini. Terpasang juga rangkaian audio berkualitas tinggi dengan 6 speaker yang disebut BMW Stereo Loudspeaker System, layar monitor 6,5 inci, socket USB dan AUX-IN, terbilang memadai untuk menghibur penumpang.

Hanya demi keselamatan menu iDrive yang dapat menginformasikan keadaan mobil, telematika dan kontrol audio hanya bisa saat diam saja. Namun, layar LCD juga mampu memutar DVD, CD dan radio ini dapat beroperasi kapan saja. Selain itu juga tersedia fasilitas bluetooth handsfree  yang dengan dengan mudah disandingkan dengan headset telepon Anda terlebih dahulu. Jika sudah, maka dengan hanya menekan tombol telepon di lingkar kemudi, maka  Anda bisa menjawab telepon masuk tanpa harus memegang telepon Anda.  

Interior juga dlengkapi beragam fitur keselamatan seperti airbag depan dan samping, side head airbag untuk penumpang depan dan kursi baris ketiga, serta safety belt setiap kursi lengkap dengan fitur belt force limiter. Sandaran kepaalnya pun dilengkapi fitur crash-active headrest(yang dapat mencegah cidera leher akibat ditabrak dari belakang). Di kursi belakangpun juga tersedia ISOFIX child seat.

Mobil ini juga tersedia Park Distance Control(PDC) depan dan belakang untuk memantau saat mobil parkir. Tampilannya pada layar 6,5 inci berupa mobil dengan zona warna-warni, serta grafik radar dan suara 'bip'. Sensornya memiliki sensitivitas terlalu tinggi sehingga alarm akan terus berbunyi meski hanya sebuah daun atau pun rumput ilalang. Tetapi Anda dapat menonaktifkannya via iDrive.

BMW memasarkan berbagai varian X3 generasi kedua di Tanah Air. Selain X3xDrive20d Business, masih ada X3 xDrive20d Executive, serta varian paling bertenaga X3 xDrive35i berbahan bakar bensin. Khusus untuk X3 xDrive20d Business, BMW Indonesia membandrolnya Rp 828 Juta (OFR).

Harga yang pantas berkat segudang teknologi dan kenyamanannya, meskipun ini adalah varian paling bawah. X3 diesel sepertinya dapat merasa aman di kelasnya, sebab di antara para pesaingnya hanya X3-lah yang menggunakan bahan bakar diesel. Meskipun, ketersediaan Pertamina DEX masih patut dipertanyakan, namun seperti dikatakan tadi, asal jangan solar bersubsidi, maka X3 bisa mengkonsumsinya.

Di luar itu, konsumsi bahan bakarnya cukup meringankan kantong. BMW x3 diesel mampu mengkonsumsi BBM rata-rata dalam kota 7,2 kpl. Sedangkan untuk luar kota tercatat angka rata-rata 14,5 kpl

Di luar soal penggunaan bahan bakar, garansi 2 tahun tanpa batas kilometer, serta jaminan 5 years service inclusive juga bisa menjadi pertimbangan.