Review Mercedes-Benz GLA-Class

Review Mercedes-Benz GLA-Class


Review Mercedes-Benz GLA-Class - Satu dekade lalu, mungkin hampir tak pernah terbersit dalam pikiran para petinggi merek premium Eropa, bahwa mereka akan terjun ke pasar mobil yang sempit (niche) pembeli, seperti crossover. Namun hal itulah yang terjadi saat ini. Lihat saja kehadiran Mercedes-Benz GLA-Class, sebuah crossover bergaya SUV, namun berbasis hatchback terlaris, A-Class. Hal ini merupakan wujud usaha Mercedes untuk membuka peluang di pasar baru, bagi para calon konsumen baru mereka.

A-Class pun menjadi semacam “pilot project” bagi Mercedes untuk memasuki segmen baru ini. Platform-nya menjadi basis kelahiran model seperti CLA-Class dan GLA-Class.  Seperti halnya CLA-Class yang menjadikan Mercedes memasuki segmen pasar sedan kompak bermesin kecil untuk pertama kalinya, GLA-Class pun memberikan cerita serupa. Inilah model crossover pertama Mercedes-Benz dalam sejarah perjalanan mereka. Di Indonesia, Mercedes Benz menyediakan dua tipe untuk GLA 200, yakni Sport dan Urban.

Dari silsilah keluarga Mercedes-Benz, GLA-Class lahir sebagai produk yang benar-benar berbeda dari semua saudaranya. Meski mereka menyebutnya sebagai SUV kompak, GLA lebih pantas disebut sebagai sebuah crossover.  Berbasis A-Class, kesan tampilan hatchback yang diusung GLA-Class memang tampak masih terlalu mendominasi. Meski begitu, citra merek Mercedes yang diusung GLA-Class memang tak dapat diremehkan, ditambah dengan jaminan kualitas premium yang disuguhkan, seharusnya mobil ini layak menjadi pilihan.
Dari dimensinya, GLA memang terlihat lebih kekar dan lebih besar dibandingkan dengan A-Class, namun sebenarnya spesifikasi dimensi panjang dan lebarnya nyaris sama persis, hanya berbeda beberapa milimeter saja. Jarak sumbu rodanya pun masih sama. Yang membedakannya adalah ketinggian mobil. Crossover Jerman ini memiliki tinggi 1.494 mm, atau 59 mm lebih tinggi dibandingkan A-Class.

Dilihat dari bagian depan, tampilan GLA kental dengan kesan sporty sesuai dengan varian GLA 200 Sport yang kami uji. Model ini memiliki sentuhan elemen-elemen eksterior dari AMG. Sisi maskulin sebuah SUV tampil dari guratan pinggul belakangnya yang tegas, aksen aluminium roof-rails, side bumper protector, serta desain apron belakangnya. Di bagian belakan itu terlihat semacam elemen skid-plate yang terintegrasi dengan twin-exhaust, menegaskan kesan sporty-nya. Velgn model five-spoke AMG berukuran 19 inci kembali menampilkan nuansa yang sporty.

Di sektor mesin masih menggunakan unit yang sama seperti milik A 200 dan CLA 200, yaitu mesin berbahan bakar bensin 4-silinder segaris 1,6 liter turbo bertenaga 156 hp dan torsi berlimpah hingga 250 Nm, yang sudah hadir mulai 1.250 rpm. Mesin ini berpasangan dengan transmisi otomatis 7-percepatan 7G-DCT  yang menggerakkan kedua roda depan.

Berbasis A-Class menjadikan  GLA ini juga mendapatkan fitur-fitur yang nyaris serupa dengan Sang Kakak. Sistem Auto Start-Stop Engine untuk konsumsi bahan bakar yang lebih efisien telah tersemat, selain itu juga hadir Active Parking Assist yang kini menjadi fitur standar di hampir seluruh model Mercedes-Benz.

Fitur keselamatan yang menjejali GLA antara lain adalah enam buah airbag, sistem rem dengan ABS+EBD+BA, kontrol traksi, Electornic Stability Program (ESP), cruise control, hingga sensor parkir dan sensor wiper otomatis. Untuk mendukung pengendaliannya, Acceleration Skid Control dan ESP Dynamic Cornering Control System menjadi jaminan Anda saat berkendara lebih agresif.
Bagian interior GLA sama persis dengan yang dimiliki oleh A-Class hatchback. Jok kulit Alcantara dengan pengaturan elektronik untuk baris pertamanya mendekap dengan nyaman, dan kekedapan interiornya menjadi bukti bahwa mobil ini memang berada di segmen premium. Elemen sporty khas AMG hadir dari penggunaan lingkar kemudi dari material kulit dengan jahitan berwarna merah. Lingkar kemudi ini, menurut saya, memberikan sensasi genggaman begitu nyaman di segala kondisi. Atap panoramic menambah impresi positif bagi mobil ini, namun kemudian terhenti begitu saja.

Ya, lapisan mahal Alcantara di joknya seakan tak dapat menghapus kesan “biasa” yang diberikan material lain di dashboard, konsol dan trim pintunya. Material yang digunakan tidak terlihat mahal, bahkan sistem AC-nya masih manual dengan tombol putar. Hal yang cukup disayangkan, mengingat harga jual GLA yang cukup tinggi untuk sebuah entry level Mercedes-Benz. Sebagai perbandingkan, sebuah SUV, bahkan hatchback bermerek Jepang dengan harga jual yang kurang dari setengahnya,  sudah dilengkapi dengan fitur-fitur tersebut, bahkan lebih baik lagi.

GLA memiliki tombol pusat pengatur sistem audio dan multimedia yang berada di konsol tengah dekat dengan arm rest. Tombol putar ini cukup mudah untuk dioperasikan karena berada di posisi dimana tuas transmisi lazimnya berada. Namun pada GLA, tuas pemindah transmisi berada di balik lingkar kemudi. Hal ini turut menyuguhkan ruang penyimpanan yang lebih banyak di bagian konsol tengah. Semua perintah dari tombol putar tersebut digunakan untuk mengubah berbagai macam pengaturan yang tampil di layar berukuran 5,8 inci di tengah dashboard.

Tampaknya tempat duduk baris kedua menjadi masalah bagi GLA. Untuk dua orang dewasa, GLA tidak akan menjadi pilihan pertama soal kenyamanan dan keleluasaan di dalamnya. Garis atap yang rendah dan melandai ke bagian belakang khas hatchback benar-benar memangkas ruang kepala di bagian belakang. Efek penggunaan atap panoramic menjadi solusi penciptaan suasana ruang lebih lapang. Sementara di bagian bagasi, Mercedes menawarkan kapasitas bagasi hingga 421 liter dalam kondisi normal, dan dapat terdongkrak hingga 836 liter dengan melipat rata bangku belakang. Yang menjdai hambatan, dengan meningkatnya jarak lantai kendaraan ke tanah, maka ambang bagasi pun semakin tinggi.
Performa yang disuguhkan oleh GLA 200 yang kami uji terasa sangat menurun dibandingkan saat kami mengujinya pertama kali di awal tahun ini. Respon akselerasinya terasa sangat lambat, dan terdengar suara ‘ngelitik’ dari mesinnya setiap kali kami menginjak pedal gas dalam-dalam untuk berakselerasi. Hal ini kami duga akibat perawatan yang kurang optimal dan sering kalinya mobil uji ini menggunakan bahan-bakar yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan sebelum kami pinjam.

Dalam uji akselerasi 0 – 100 kpj yang kami lakukan berulang kali, angka yang kami dapat tidak dapat lebih cepat dari 11,3 detik, meski sudah kami lakukan di mode pengendaraan Sport. Padahal klaim Mercedes-Benz akselerasi hingga 100 kpj dapat dicapai dalam 8,8 detik. Di putaran mesin rendah, Mobil GLA benar-benar terhambat performanya akibat respon akselerator yang lambat, meski saat berakselerasi di kecepatan menengah dan tinggi mobil ini memberikan respon yang cukup baik.

Penggunaan paddle shift turut berkontribusi untuk menyuguhkan performa yang menyenangkan. Dalam mode pengendaraan manual, penggunaan paddle shift menjadikan perpindahan gear dapat dilakukan kapan saja untuk mengeluarkan tenaga yang dibutuhkan. Dalam perjalanan menuju Bandung yang didominasi oleh lintasan menanjak, kekurangan GLA200 yang disebabkan respon akselerasinya yang lambat, dapat dipenuhi oleh pemilihan gear yang lebih rendah.
Respon mesin yang lambat menjadikan pengendaraan GLA terasa kurang optimal di putaran mesin rendah. Hal ini menjadikan pergerakan mobil seakan terhambat dan tidak sesuai ekspektasi saat misalnya, beranjak setelah lampu merah berubah menjadi hijau. Meski begitu, soal kenyamanan dalam pengendaraan, kami tetap perlu mengacungi jempol.  Yang perlu Anda lakukan hanyalah mencoba untuk berakselerasi secara halus dan bertahap, GLA dapat dengan mudah menuruti input tersebut. Torsi mendorong mobil dengan halus, dan perpindahan transmisi berlangsung mulus menuju gear tertinggi demi efisiensi dan kenyamanan.

Sepanjang pengujian, suspensi GLA 200 Sport terasa keras saat melintasi jalanan berlubang ataupun polisi tidur. Hal ini rasanya cukup berkaitan dengan penggunaan ban berprofil rendah. Saat bermanuver cepat, kenyamanan suspensi ini masih memberikan sedikit efek mengayun, meski tidak terlalu banyak. Di kecepatan tinggi, mobil ini memberikan kepercayaan diri berkat penggunaan ban tapak lebarnya, sementara di kecepatan rendah, lingkar kemudinya berbobot cukup ringan, tak menyulitkan saat parkir. Visibilitas ke depan cukup lapang, namun melihat ke belakang cukup tereduksi bentuk atap yang menurun dan kaca belakang yang kecil.

Di kelas crossover, GLA tetap menyuguhkan pengendaraan kelas premium layaknya produk lain lansiran Jerman. Meski begitu, jika berbicara mengenai kehalusan pengendaraan, SUV kompak lansiran pabrikan Jepang, seperti Honda CR-V masih memberikan keunggulan dibandingkan GLA. Namun soal peredaman kebisingan, GLA dapat mengatasi dengan sangat baik.

Berkat ban bertapak lebar dan dukungan sistem pengereman ABS+EBD dan Brake Assist, tak dapat dipungkiri  jika performa pengereman GLA memberi jaminan keselamatan. Tercatat, dari kecepatan 80 kpj hingga benar-benar diam, GLA berhenti dalam jarak 24,7 meter dan waktu 2,2 detik.
Sebagai kendaraan terbaru di segmen yang juga baru bagi Mercedes-Benz, GLA-Class akan berhadapan langsung dengan crossover kompak premium lansiran Jerman lainnya seperti Audi Q3, BMW X1 dan juga Volkswagen Tiguan.  Mercedes menawarkan dua varian GLA di Tanah Air, yaitu GLA 200 Urban dan GLA 200 Sport. Varian terendah GLA 200 Urban memiliki banderol harga Rp 599 juta (off the road), sementara GLA 200 Sport berbanderol Rp 649 juta (off the road). Di rentang harga serupa, terdapat Audi Q3 1.4 TFSI yang berbanderol Rp 685 juta (on the road) dan BMW X1 sDrive18i Xline berharga Rp 629 juta (off the road). Sementara VW Tiguan 1.4 TSI varian tertinggi Highline berbanderol hanya Rp 495 juta (on the road). Meski begitu, seperti halnya ketiga rival satu tanah kelahiran, GLA seakan memiliki kasta lebih tinggi dibandingkan produk-produk crossover bermerek Jepang, berkat tawaran berbagai fitur standar keselamatan yang lengkap, serta eksklusivitas mereknya masing-masing.

Kenyataannya, memang bukanlah crossover pabrikan Jepang yang menjadi lawan sepadan bagi GLA, namun jajaran SUV kompaknya lah yang perlu diwaspadai. Coba lihat saja apa yang ditawarkan Mazda dengan CX-5-nya. SUV kompak berbanderol Rp. 490,4 juta (on the road) untuk varian GT tertinggi, namun fitur yang ditawarkannya sangat menggoda, sebut saja Line Kept Assist  System dan Blind Spot Warning. Belum lagi dengan peningkatan kualitas material yang digunakan di dalam interiornya.  Selain Mazda, masih ada Nissan dengan X-Trail dan Honda dengan CR-V. Ketiga merek Jepang tersebut, mulai menjual tak hanya fitur dan teknologi, namun juga kemewahan dengan harga yang semakin terjangkau. Menjadi rival yang tak dapat dipungkiri, mengancam populasi crossover Jerman di Tanah Air.